Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2021

Surat yang Tak Pernah Sampai

Teruntukmu,   Selamat ulang tahun. Kutebak ini bukan ucapan yang kamu harapkan datang, tetapi biar hanya hujan yang membacanya, di saat petir masih jauh lebih lembut daripada kata-kata orang yang pernah berdusta. Iya, aku pembohong yang pernah mengiming-iming bahagia demi kenyangnya ego semata, tetapi sejujurnya, aku menyesal. Tiada maksud merusak suasana seperti mungkin apa yang sering dibuat kenangan tentang kita di hatimu, atau seperti pertanyaan di tengah sepi yang menerpa malammu. Kepada hujan, kuminta agar segala kata yang berasal dariku dibawanya dari ingatanmu sampai ke laut. Sehingga ia sekali lagi meyakinkan aku bahtera yang terkatung-katung di tengah penyesalan. Aku merasakan betul mahalnya tetes-tetes air mata yang telah kusia-siakan, dan masih kutanyakan mengapa baru sekarang aku rasakan. Penyesalan yang entah kapan surut, selama aku tahu kamu masih begitu membenciku. Sekali lagi, maafkan aku yang waktu itu. Maafkan aku juga, yang masih bermimpi untuk belabuh d...

(masih) kamu

Segala pengetahuanku tentang cinta adalah bibirmu. Pantai, stasiun-stasiun, dan semua hal yang mengajari aku menunggangi gelombang, menumpangi kereta, menuju pulau dan kota-kota yang tersembunyi di dadamu. Aku datang dengan kaki-kaki yang tak mengenali setapak ini dan belokan-belokan itu hanya untuk sampai di ujung jari kakimu dan berdoa di kedua telapak tanganmu bahwa cinta adalah usaha, tenaga, dan sisanya adalah jalan-jalan rahasia yang hanya bisa dilalui doa. Kau boleh saja menamai semua bunga dan belukar di pikiranku yang sewaktu-waktu akan bercerita tentang bagaimana senyumanmu mendatangi seluruh lembahnya dan membangun kediaman tanpa satupun kerajaan dapat menaklukannya.