Surat yang Tak Pernah Sampai
Teruntukmu,
Selamat
ulang tahun. Kutebak ini bukan ucapan yang kamu harapkan datang, tetapi biar
hanya hujan yang membacanya, di saat petir masih jauh lebih lembut daripada
kata-kata orang yang pernah berdusta. Iya, aku pembohong yang pernah
mengiming-iming bahagia demi kenyangnya ego semata, tetapi sejujurnya, aku
menyesal. Tiada maksud merusak suasana seperti mungkin apa yang sering dibuat
kenangan tentang kita di hatimu, atau seperti pertanyaan di tengah sepi yang
menerpa malammu.
Kepada
hujan, kuminta agar segala kata yang berasal dariku dibawanya dari ingatanmu
sampai ke laut. Sehingga ia sekali lagi meyakinkan aku bahtera yang
terkatung-katung di tengah penyesalan. Aku merasakan betul mahalnya tetes-tetes
air mata yang telah kusia-siakan, dan masih kutanyakan mengapa baru sekarang
aku rasakan. Penyesalan yang entah kapan surut, selama aku tahu kamu masih
begitu membenciku.
Sekali
lagi, maafkan aku yang waktu itu. Maafkan aku juga, yang masih bermimpi untuk
belabuh di kesempatan terakhir yang kata semua, mustahil ada. Bersama dengan
perasaan bersalah ini ada harap, semoga seusai aku menulis surat ini aku dapat
terbangun, lalu dengan mata yang kubuka, dapat kulihat kebaikan demi kebaikan
yang menghampiri hatimu. Semoga, kedamaian ada di sebanyak-banyaknya hari yang
tersisa untuk kamu jalani.
Tertanda,
Iya, ini aku.
Komentar
Posting Komentar