Insecure
Berbicara
tentang ketidakpercayadirian, gua rasa kebanyakan dari kita semua pernah atau
bahkan masih mengalami ini. Topik ini
udah dari dulu dibahas banyak orang, tapi dengan adanya pengalihan bahasa,
sekarang jadi agak ramai dibahas banyak orang lagi. Gua
pernah dan cukup lama gak percaya diri. Warna kulit
jadi satu dari banyak hal yang membuat gua gak percaya diri. Gimana enggak,
pada waktu itu, dibanding temen-temen gua yang lain, warna kulit gua paling
gelap. Sebenernya pas sekolah dasar it’s not a big deal, tapi pas lanjut
sekolah ke Smp semua hal berubah, seorang remaja yang menuju masa puber jelas
lebih memperhatikan banyak hal. Salah satunya penampilan.
Dulu, pas Smp ada
seorang cewe yang gua suka (dan kayaknya dia juga tau gua suka sama dia) bilang
ke temen cewenya gini "si robby teh kasep ngan hideung". Omongan itu
pada akhirnya nyampe juga ke telinga gua. Pada detik itu pandangan gua terhadap sekitar berubah total, gua
merasakan betul transisi dari bocah SD menuju fase puber remaja.
Gua merasa gak sesuai standart pada waktu itu
dan itu cukup terdengar menyedihkan. Bahkan gua gak pernah mau dan gak pernah punya baju
warna putih kecuali seragam sekolah. Baju
yang gua punya semuanya warna gelap dan gua nyaman dengan itu. Mungkin baru setahun
terakhir gua berani pake baju dengan warna yang lebih terang, putih salah
satunya. Yang lama gak gua sadari adalah gua hidup di sebuah Negara asia tenggara dengan
iklim tropis yang mana matahari terbit 365 hari sepanjang tahun, coklat gelap
kulit gua i’ts normal dan gua mulai bisa berdamai dengan itu. Persetan dengan standart masyarakat, gua buat standart gua sendiri. Sampe akhirnya di Smp gua punya pacar. Jujur, punya
pacar itu sedikit menghilangkan ketidakpercayadirian atau menyembunyikan? Siapa yang tau. Setidaknya di luar keluarga lu ada satu orang yang
nerima penampilan lu apa adanya.
Selayaknya orang gak
percaya diri, gua jadi orang yang pendiem yang ngomong aja gak berani, takut
gak didenger, takut natap mata lawan bicara, jalan nunduk.
Ada dua hal yang
kayaknya mengubah gua secara signifikan. Pertama, paskibra. Ya, gua ikut
ekstrakulikuler ini pas Smk. Karna sering lomba kesana kemari dan sering tampil di depan umum lambat laun
kepercayaan diri gua tumbuh. Yang tadinya jalan aja nunduk, sedikit demi
sedikit lebih percaya diri, bahkan gua udah gak takut natap mata orang pas
ngobrol. Kedua, bu Febri, guru sejarah gua di Smk. Di kelas beliau gua seneng.
Gua merasa selalu punya kesempatan buat ngomong, berpendapat, menyanggah, atau
bahkan mengkritik power point temen yang lebih mirip koran dibanding power
point. Kalo ibu baca ini, i wanna say thank you for being amazing teacher. Dan harusnya begitu representasi guru di Indonesia. Sehat selalu,
bu Febriana.

banyak sekali seseorang yang mengalami ketidak percaya dirian. yes, i get it apa yang lu ungkapkan disini tentang ketidak percaya dirian tersebut, dan gua sendiripun sedang berada difase itu saat ini, tapi bukan hanya soal fisik aja yang menjadi ketidak percaya dirian itu tumbuh melainkan ada hal lain salah satunya financial. so, i think this is normal, you know?
BalasHapusMon maap gak related. Aku kaya raya soalnya.
Hapus