Memilih
"Jangan cari pasangan yang saling melengkapi. Tapi yang bisa menggantikan. Cari subtititusi bukan komplementer".
Sepenggal kalimat di atas adalah nasihat yang diberikan seseorang kepada yang beberapa hari yang lalu. Masuk akal bukan?
Kita pasti sering membaca atau mendengar kalimat "Cari pasangan itu yang bisa saling melengkapi" iyaa kan?
Hey, kalimat itu memang terdengar ideal ketika memilih pacar, tapi ketika kamu mencari istri, kalimat tersebut menjadi tidak relevan.
Kenapa nggak relevan?
Karena ketika membangun rumah tangga, kemungkinan buruknya adalah jatuh sakit. Baik si suami ataupun si istri. Iyaa, sakit. Kita bukan Firaun yang nggak pernah sakit selama hidupnya sampai-sampai mengaku menjadi Tuhan, kita cuma manusia biasa.
Dan di sinilah kalimat paling atas menjadi masuk akal.
Ambil contoh ketika si istri sakit, si suami harus bisa menggantikan pekerjaan si istri. Merawat anak dan lain-lain. Begitupun ketika si suami sakit, si istri harus bisa menggantikan.
Pasti ada yang nyinyir "kan bisa rekrut pembantu bla bla bla", "patriarki banget sih looo bla bla bla".
Bukan gitu, saya cuma ingin anak saya tumbuh besar didampingi ibunya dan terpenuhi kasih sayangnya, itu aja. Lagipula bakal nggak nyaman banget kalo ada orang asing (pembantu) seliweran seharian di rumah saya. Rumah saya privasi saya.
Paling nggak itu yang ada di kepala saya ketika umur 20an ini, gatau nanti kalo udah 30, mungkin bakal berubah, entahlah.
Sepenggal kalimat di atas adalah nasihat yang diberikan seseorang kepada yang beberapa hari yang lalu. Masuk akal bukan?
Kita pasti sering membaca atau mendengar kalimat "Cari pasangan itu yang bisa saling melengkapi" iyaa kan?
Hey, kalimat itu memang terdengar ideal ketika memilih pacar, tapi ketika kamu mencari istri, kalimat tersebut menjadi tidak relevan.
Kenapa nggak relevan?
Karena ketika membangun rumah tangga, kemungkinan buruknya adalah jatuh sakit. Baik si suami ataupun si istri. Iyaa, sakit. Kita bukan Firaun yang nggak pernah sakit selama hidupnya sampai-sampai mengaku menjadi Tuhan, kita cuma manusia biasa.
Dan di sinilah kalimat paling atas menjadi masuk akal.
Ambil contoh ketika si istri sakit, si suami harus bisa menggantikan pekerjaan si istri. Merawat anak dan lain-lain. Begitupun ketika si suami sakit, si istri harus bisa menggantikan.
Pasti ada yang nyinyir "kan bisa rekrut pembantu bla bla bla", "patriarki banget sih looo bla bla bla".
Bukan gitu, saya cuma ingin anak saya tumbuh besar didampingi ibunya dan terpenuhi kasih sayangnya, itu aja. Lagipula bakal nggak nyaman banget kalo ada orang asing (pembantu) seliweran seharian di rumah saya. Rumah saya privasi saya.
Paling nggak itu yang ada di kepala saya ketika umur 20an ini, gatau nanti kalo udah 30, mungkin bakal berubah, entahlah.
Tapi ini cuma salah satu faktor aja yaa, masih banyak faktor lain dalam hal memilih pasangan, apalagi pasangan hidup.
Bibit, bobot, bebet, cara memperlakukan orang lain, kesehatan emosional, bagaimana dia memperlakukan keluarganya, dan masih banyak lagi.
Masih banyak banget sebenernya yang pengen saya tulis, tapi bingung pemilihan katanya wkwkw. Mungkin nanti bakal saya lanjutin.
Oiya, di dalam tulisan ini saya tidak bermaksud mendeskriditkan pihak manapun yaa. Ini murni yang ada di kepala saya aja, tanpa rujukan buku apapun. Jadi kebenarannya tidak bisa dipertanggungjawabkan atau dijadikan acuan oleh orang lain ketika memilih pasangan. Lagipula ini cuma pendapat bukan karya ilmiah.
Selamat gini hari, jangan lupa ketawa.
Salam
Oiya, di dalam tulisan ini saya tidak bermaksud mendeskriditkan pihak manapun yaa. Ini murni yang ada di kepala saya aja, tanpa rujukan buku apapun. Jadi kebenarannya tidak bisa dipertanggungjawabkan atau dijadikan acuan oleh orang lain ketika memilih pasangan. Lagipula ini cuma pendapat bukan karya ilmiah.
Selamat gini hari, jangan lupa ketawa.
Salam
Komentar
Posting Komentar