Rubanah Merah
Yang terlupakan semestinya enggan lagi terulang. Merebut kisah
masa kini dan menggantinya dengan kenangan masa silam. Begitu yang jatuh luruh,
menyampaikannya pada muka yang lusuh.
Masih
gerimis, masih menangis. Aku biasanya memulai ini dengan beberapa perasaan yang
harus kutikam sekali waktu. Bagi pemuja perasaan murung, sore adalah pagi dalam
bentuk yang hampir sama dengan kadar enggan memulai percakapan yang tidak jauh
berbeda.
Aku
yang tidak berhasil mendapatkan penjelasan atas jawaban yang kamu berikan malam
itu. Aku kalah dalam percakapan yang sudah kupersiapkan jauh-jauh hari. Aku kalah namun
tidak mengerti. Seolah melihat matamu pun aku tidak berani. Tidak jelas dan
kamu ingin kita tidak jelas! Bukankah itu sudah semakin lebih jelas?
Lalu.
...
Apakah
dengan mengurai lagi hal semacam ini, aku bisa meneruskan mimpi menjadi sesuatu
yang tidak jelas kumengerti? Apakah sedemikian ini menerima hari kemarin?
Apakah ada yang lain?
Semoga
saja ada. ...
Semoga
saja kamu tahu. ...
Apa
yang tidak pernah aku ceritakan bukan berarti ingin kusembunyikan. Lebih dari
itu. Aku ingin berterus-terang dalam gelap dan menguburnya dalam lelap lalu
berharap kamu menemukan sendiri secara lengkap.
Dengan
jarak yang terpisah oleh satuan rindu, aku ingin melingkari tubuh yang kupeluk
namun jauh. Antara ranting pohon yang jatuh berantakan dan beranda berwajah
sawah yang selalu membuatku nyaman layaknya dalam dekapan rumah.
Menempuh
perjalanan. ...
Mengutarakan
arah hati. ...
Memilih
lupa untuk tidak kembali. ...
Setibanya
di kediaman malasmu, sekali saja bisakah kamu membiarakan suaramu mengutarakan
nadanya dengan bebas? Membuatnya meresap dalam dinding-dinding pulas tidurmu?
Dan akan selalu, selalu ada sepasang telinga yang bersedia kapan pun untuk
membingkainya sebagai hal indah.
Senja
semakin tenggelam, malam mulai bertingkah manja, dan demi bintang petunjukku
pulang, aku rela menemanimu membiasakan bercerita dengan durasi yang sekiranya
panjang. Merangkai sebab-akibat yang tidak dibuat-buat, biarkan begitu saja;
mengalir tanpa pernah memaksa hanyut.
Namun,
semenjak kisah perih itu melumpuhkan. Setelah senyummu tiba - tiba meredup
untukku, aku berpesan; Jika dipertemuan yang akan datang aku masih terhitung
merindukan kamu, mungkin itu hanya ingatan yang merubah rupa menjadi masa lalu,
yang kamu lupa semenjak menjauhkan jarak pelukan dengan hariku.
Meski
perasaan yang patah ini sulit untuk dirangkai kembali dengan penjelasan, tetapi
melalui kamu, jendela adalah sepasang matamu dikemudian hari, dilain kisah dan
di dalam senyum yang kunamai 'pulang'. Seperti sebelum ini, akan kunamai kamu
pulang, tempat dimana kenangan itu tumbuh sesak dan semakin tambah sesak.
Dan
kelak, aku ingin kenangan itu serupa di mana lokasi tidak tersedia dalam jalan
pulangku menuju pelukmu. Perlahan dengan begitu cepatnya menghilang.
Hingga
...
Pada akhirnya, aku dan kamu adalah sehimpun perasaan kemarin yang pernah saling lama menatap hingga berujung dekat lalu menjauh pergi tak terlihat. Di rubanah merah mereka tumbuh dengan amarah.

Komentar
Posting Komentar