Tukang Potokopi Jutek

Bagi kita mahasiswa dan pelajar, tempat potokopi ini menjadi sesuatu yang cukup penting perannya dalam beberapa hal. Beli alat tulis, print tugas, bikin cover makalah. Dll

Gua gak tau nama resmi dalam bahasa indonesia tempat potokopian itu apaan. Dan gua cukup yakin lu juga gak tau. kalau misalkan tempat-tempat jualan lain kan ada tuh namanya kek warteg, warnet, warkop. Nah kalo tempat potokopian apaan? Percetakan mungkin?

Dari dulu sampe sekarang entah berapa kali gua ke tempat ini, di mana pun selalu punya persamaan. Mas-mas atau mbak-mbaknya tuh selalu cemberut, seolah-olah tidak menikmati pekerjaannya. Gak kayak mas-mas atau mbak-mbak indomaret yang ramah sama konsumen.

Dalam kepala, gua menemukan sebuah asumsi bahwa “oh mungkin cemberut tuh karna mereka gak dibayar full atas pelayanan mereka”. Gua jelasin, mereka pikir mungkin mereka jual barang dan jasa. Sedangkan yang kita bayar Cuma barangnya doang. Jasanya enggak. Gua belum pernah liat orang ke potokopi terus motokopi sendiri, pasti dipotokopiin sama mas-mas atau mbak-mbaknya. Tapi yang lu bayar barangnya doang (kertas), jasanya enggak. Mungkin itulah alasan kenapa tukang potokopi tuh jutek-jutek. Karna gak semua orang bisa mengoprasikan mesin potokopi lho...

Nah, kalo tukang potokopi melakukan jasa secara cuma-cuma, gua ada pengalaman makan di sebuah restoran. Diajak temen waktu itu. Restoran ini tuh menyediakan olahan daging gitu, banyak lah menunya. Gua duduk di meja yang tengahnya ada panggangan gitu, dalam hati “aduh perasaan gua gak enak nih” dan bener aja dari sekian banyak menu, si anying ini milih menu daging iris-iris dan sialnya harus masak sendiri. Mbak-mbaknya cuma bawain daging iris, saos sambel gitu, sama sayuran kalo gak salah. Gua dateng dalam keadaan lapar dan berharap cepet makan malah disuruh masak. Bayar mahal-mahal malah masak sendiri. Sialan emang ni temen satu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Gapapa"'

Insecure

Minim Literasi