Ejekan

Saling mengejek itu adalah sebuah kultur yang indah. Terdengar tidak relevan dengan ajaran moral dan agama memang, tapi itu yang kita lakukan hampir tiap hari. Coba lu dengerin lagu Tulus yang judulnya Gajah. Gua gak bisa bayangin segendut apa si Tulus ini sampe pas kecil disebut gajah. Atau mungkin pas kecil dia pernah digigit semut, terus nangis. Ya kan gajah kalahnya sama semut.

Orang Jawa Timur (kebanyakan), menggunakan umpatan “Cok” untuk menyapa temannya. Yang belakangan mulai nyebar tuh ke beberapa daerah lain. Memang belum ada kesepakatan resmi mana yang konkrit, jancok/jancuk/dancuk, tapi kesamaannya, bahasa ini digunakan untuk meningkatkan keakraban di antara teman. Dengan kasus di atas, tidak ada orang yang merasa direndahkan, justru merasa lebih akrab dengan temannya.

Lalu apa batasan antara ejekan pertemanan dan umpatan?

Ada yang bilang motivasinya yang beda. Kalau ejekan pertemanan, motivasinya kasih. Kalau kata Joko Pinurbo, “sumber segala kisah adalah kasih.” Tolong dicatat, mengejek orang dengan kasih itu ada. Ada.

Kalau umpatan, motivasinya benci. Marah bisa bikin orang mengumpat. Kayak orang yang ngumpat di jalan raya karna ada orang nyalip gak bener, nenek-nenek yang ngumpat karna disebrangin pedahal gak mau nyebrang, atau supir angkot yang berenti mendadak lah minimal. Tapi ada juga yang ngumpat di jalan karna latah. Nah, yang latah ini masuk ejekan pertemanan atau umpatan?

Kalau menurut gua batasannya bukan di motivasi orang yang ngomong, tapi kuping yang denger. Suatu hari, gua lagi terjebak dalam perdebatan kecil gitu sama temen. Karna gua merasa benar (belum tentu benar), gua ngotot sama argumen gua. Terus dia bilang, “Dasar Jawa gak mau kalah!”

Apakah gua sakit hati? Tentu tidak. Kalau ada yang merasa terhina, mungkin orang Jawa asli. Gua hanya punya setengah darah Jawa dalam tubuh gua. Tapi apakah semua orang Jawa gak mau kalah? Gak juga. Orang Padang juga gak semuanya pelit kali. Jangan digeneralisir dong!

Di suatu momen, kalian akan merasa terhina atau bahkan dihina oleh orang lain. Ingatlah, yang berhak menilai diri lu cuma Tuhan, gak usah terlalu sensitif buat dengerin ejekan orang. Dibawa santai aja. Jangan sampe karna terlalu mengingat kata-kata jahat dari orang lain, lu jadi lupa bahagia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Gapapa"'

Insecure

Minim Literasi