Selera
Sebelum lebih jauh, kita harus sepakat dulu bahwa
apapun bisa diperdebatkan kecuali selera. Karna selera itu bukan sesuatu hal
untuk diperdebatkan. Bisa kacau soalnya kalo didebatin, perkara bubur diaduk
sama gak diaduk aja orang bisa berantem.
Gua team bubur diaduk, karna ada alasannya. Pertama,
gua makan bubur itu dari kecil, dan pada waktu itu sterofom belum rame kayak
sekarang, jadi alternatifnya kalo dibungkus pake kantong plastik, dalam
perjalanan pulang udah keaduk sendiri, dan ketika dituang ke mangkok pun
kondisinya udah keaduk. Udah jadi kebiasaan. Kedua, kalo diaduk, bumbunya lebih menyeluruh. Kalo gak
diaduk, bumbunya gak menyeluruh kayak akses pendidikan di Indonesia. Lagian
makan bubur enakan diaduk, kalo tumpeng baru noh jangan lu aduk. Emang lu
pernah liat orang ngaduk-ngaduk tumpeng? Gak kan?!
Pun selera musik, gak perlu diperdebatkan. Karena gua
menyakiini bahwa seni itu gak bisa dinilai vertikal, kalau kualitasnya itu hal
lain. Yang berbahaya adalah ketika lu suka A dan lu merendahkan orang yang suka
dengen B. Contoh, lu suka musik Jazz, di saat yang sama, temen lu suka Dangdut,
dan lu merendahkan selera temen lu kayak, “Dih, dengerin dangdut. Kampungan”. Lu
mau suka apapun terserah, tapi bisa kali gak merendahkan orang lain.
Selera berpakaian apalagi, yang notabenenya paling
keliatan daripada selera-selera yang lain. Menurut gua, dalam berpakaian itu
yang terpenting adalah sopan dan pantas. Rapih opsional sifatnya. Mahal atau
murah itu bukan persoalan, sesuaikan sama duit yang lu punya aja. Kenapa sopan
dan pantas itu penting, karna selain lu menghargai orang lain yang akan ketemu
sama lu, juga bentuk penghargaan terhadap diri lu sendiri. Gua pernah datang ke sebuah resepsi
pernikahan dan ada orang datang pake sepatu futsal, warna ijo. Maksud gua
di acara resepsi ini tidak ada yang bisa ditendang dong, lagian apa coba yang
bisa ditendang? Kepala penganten? Gua gak menyarankan, tapi kalo lu punya cukup nyali ya silahkan.
Komentar
Posting Komentar